DEMAM BERDARAH DENGUE

Januari 11, 2009 at 11:35 am Tinggalkan komentar

DEMAM BERDARAH DENGUE

Pendahuluan
Demam dengue/DF dan demam berdarah dengue/DBD (dengue haemorrhagic fever/DHF) adalah penyekit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan/nyeri sendi yang disertai leukopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan diatesis hemoragik. Pada DBD terjadi permbesan plasma yang disertai (peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga tubuh. Sindrom renjatan dengue (dengue shock syndrome) adalah demam berdarah dengue yang ditandai oleh renjatan/syok.

Etiologi
Demam dengue dan demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue yang termasuk dalam genus Flavivirus, keluarga Flaviviridae. Flavivirus merupakan virus dengan diameter 30 nm terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4 x 106.
Terdapat 4 serotipe virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4 yang semuanya dapat menyebabkan demam dengue atau demam berdarah dengue. Keempat serotype ditemukan di Indonesia dengan DEN-3 merupakan serotype terbanyak. Terdapat reaksi silang antara serotipe dengue dengan Flavivirus lain seperti Yellow fever, Japanese encephalitisdan West Nile Virus.
Dalam laboratorium virus dengue dapat berreplikasi pada hewan mamalia seperti tikus, kelinci, anjing, kelelawar dan primata. Survei epidemiologi pada hewan ternak didapatkan antibodi terhadap virus dengue dapat berreplikasi pada nyamuk genus Aedes (Stegomyia) dan Toxorhynchites.

Epidemiologi
Demam berdarah dengue tersebar di wilayah Asia Tenggara, Pasifik barat dan Karibia. Indonesia merupakan wilayah endemis dengan sebaran di seluruh wilayah tanah air. Insiden DBD di indonesia antara 6-15 per 100.000 penduduk (1989 hingga 1995); dan pernah meningkat tajam saat kejadian luar biasa hingga 35 per 100.000 penduduk pada tahun 1998, sedangkan mortalitas cenderung menurun hingga mencapai 2% pada tahun 1999.
Penularan infeksi virus dengue terjadi melalui vektor nyamuk genus Aedes (terutama A. Aegypti dan A. Albopictus). Peningkatan kasus setiap tahunnya berkaitan dengan sanitasi lingkungan dengan tersedianya tempat perindukan bagi nyamuk betina yaitu bejana yang berisi air jernih (bak mandi, kaleng bekas dan tempat penampungan air lainnya).
Beberapa faktor diketahui berkaitan dengan peningkatan transmisi virus dengue yaitu: 1. Vektor: perkembangbiakan vektor, kebiasaan menggigit, kepadatan vektor di lingkungan, transportasi vektor dari satu tempat ke tempat lain; 2. Pejamu; terdapatnya penderita di lingkungan/keluarga, mobilisasi dan paparan terhadap nyamuk, usia dan jenis kelamin;3. Lingkungan: curah hujan, suhu, sanitasi dan kepadatan penduduk.

Patogenesis
Patogenesis terjadinya demam berdarah dengue hingga saat ini masih diperdebatkan. Berdasarkan data yang ada, terdapat bukti yang kuat bahwa mekanisme imunopatologis berperan dalam terjadinya demam berdarah dengue dan sindrom renjatan dengue.
Respon imun yang berperan dalam patogenesis DBD adalah
a. Respon humoral berupa pembentukan antibodi yang berperan dalam proses netralisasi virus, sitolisis yang dimediasi antibodi. Antibodi terhadap virus dengue berperan dalam mempercepat replikasi virus pada monosit atau makrofag. Hipotesis ini disebut antibody dependent enchancement (ADE);
b. Limfosit T baik T-helper (CD4) dan T sitotoksik (CD8) berperan dalam respon imun seluler terhadap virus dengue. Diferensiasi T helper yaitu TH1 akan memproduksi interferon gamma, IL2 dan limfokin, sedangkan TH2 memproduksi IL4, IL5, IL6 dan IL10; c. Monosit dan makrofag berperan dalam fagositosis virus dengan opsonisasi antibodi. Namun proses fagositosis ini menyebabkan peningkatan replikasi virus dan sekresi sitokin oleh makrofag; d. Selain itu, aktivasi komplemen oleh kompleks imun menyebabkan terbentuknya C3a dan C5a.
Halstead pada tahun 1973 mengajukan hipotesis secondary heterologous infection yang menyetakan bahwa DHF terjadi bila seseorang terinfeksi ulang virus dengue dengan tipe yang berbeda. Re-infeksi menyebabkan reaksi anamnesik antibodi sehingga mengakibatkan konsentrasi kompleks imun yang tinggi.
Kurane dan Ennis pada tahun 1994 merangkum pendapat Hanstead dan peneliti lain: menyatakan bahwa infeksi virus dengue menyebabkan aktivasi makrofag yang memfagositosis kompleks virus antibodi non netralisasi sehingga sehingga virus bereplikasi di makrofag. Terjadi infeksi makrofag oleh virus dengue menyebabkan aktivasi T helper dan T sitotoksisk sehingga diproduksi limfokin dan interferon gamma. Interferon gamma akan mengaktivasi monosist sehingga disekresi berbagai mediator inflamasi seperti TNFα, IL1, PAF (platelet activating factor), Il6 dan histamin yang mengakibatkan terjadinya disfungsi sel endotel dan terjadi kebocoran plasma. Peningkatan C3a dan C5a terjadi melalui aktivasi oleh kompleks virus-antibodi yang juga mengakibatkan terjadinya kebocoran plasma.

DISKUSI

Dari anamnesis dan pemeriksaan fisis yang dilakukan pertama kali di poliklinik, pasien didiagnosis TDBD karena sesuai gejala klinis DBD namun belum ada hasil laboratorium sehingga hanya bisa didiagnosis TDBD bukan DBD. Setelah melakukan kunjungan rumah (hari ke 7) dan dilakukan anamnesis serta pemeriksaan fisis, demam yang dialami pasien sudah berlangsung selama 6 hari sudah menghilang dan keluhan simptomatik sudah tidak ada, tidak ditemukan peteki. Dari hasil yang ditemukan diatas, maka kami tetap berkesimpulan bahwa pasien ini menderita TDBD.
Pasien ini tetap didiagnosis TDBD karena belum ada hasil laboratorium yang
Mendukung untuk ke arah DD atau DBD. Sementara dikatakan DBD apabila terdapat trombositopenia ( 20%, hematokrit turun hingga >20% dari hematokrit awal setelah pemberian cairan dan terdapat efusi pleura, asites dan hipproteinemia.1,7
Begitu pula penelitian Bagian Mikrobiologi FKUH yang menunjukkan bahwa tidak semua TDBD dapat ditegakkan hanya dengan penelitian klinis sebab dari 72 sampel pasien yang didiagnosis TDBD kemudian diperikasa dengan Rapid test didapatkan hasil 23 sampel darah yang negative dengan Rapid Strip test.5 Pemeriksaan serologi dapat digunakan sebagai pegangan diagnosis walaupun sensivitasnya rendah. Antibodi yang dapat dideteksi dari infeksi virus pada waktu yang lalu adalah imunoglobulin G (IgG), sedangkan antibody yang terbentuk dari infeksi baru adalah imunoglobulin M (IgM). Dengan terdeteksinya antibodi ini dapat memperkuat dugaan terjadinya infeksi virus dengue.9
Tidak ada terapi yang spesifik untuk demam dengue, prinsip utama adalah terapi suportif yang adekuat, angka kematian dapat diturunkan hingga kurang dari 1%. Pemeliharaan volume cairan sirkulasi merupakan tindakan yang paling penting dalam penanganan kasus DBD. Asupan cairan pasien harus tetap dijaga terutama cairan oral. Jika asupan cairan oral pasien tidak mampu dipertahankan, maka dibutuhkan suplemen cairan melalui intavena untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi secara berkala.1 Penderita diberi minum sebanyak 1,5 – 2 liter dalam 24 jam.6
Penelitian yang dilakukan oleh Halstead pada individu yang pernah terinfeksi virus dengue. Selain membentuk antibodi neutralizing, pada infeksi virus juga terjadi pembentukan antibodi non-neutralizing yang di mana merupakan faktor penting berkembang kearah DBD dan DSS. Ada 4 tipe virus dengue yang berbeda secara serologi menyebabkan antibodi neutralizing belum dapat menetralkan virus dengue tipe lain. Anti virus non-neutralizing (IgG) bahakan memudahkan masuknya virus tipe lain ke dalam sel mononuklear, makrofag atau monosit dan berkembangbiak di dalamnya. Replikasi ini akan menyebabkan pembentukan kompleks imun lebih banyak lagi sehingga aktivitas komplemen meningkat dan dapat timbul renjatan.10
Sampai saat ini belum dihasilkan ada vaksin yang aman dan efektif teruji untuk manusia. Penelitian mengenai vaksin anti dengue sampai sekarang sudah memasuki generasi kedua di mana telah diuji pada manusia.11 Pengujian dilakukan pada 140 anak-anak Thailand berusia 4-15 tahun menggunakan LATDV (Live Attenuated Tetravalent Dengue Vaccine) yang sudah divaksin sejak 3-8 tahun yang lalu (tahun 1992-1998). Kemudian pada tahun 2001 dinilai respon imun humoral dan faktor resiko terkena infeksi dengue lain. Selama tahun 1992-1998, hanya tersisa 113 yang masih studi kohort retrospektif selama 2 tahun dibandingkan dengan kontrol. Hasilnya LATDV meningkatkan antibodi neutralizing sampel dibandingkan 3-8 tahun yang lalu. Namun antibodi neutralizing masih tidak melampaui sampel yang tersangka DD dan DBD dibandingkan kontrol yang tersangka DD dengan DBD dibandingkan kontrol. Hasilnya LATDV menginduksi antibodi neutralizing namun tidak menambah keluhan dengue sehingga penggunaan vaksin ini aman.12

DAFTAR PUSTAKA

1 Suhendro, Nainggolan, Chen K, Pohan HT. Demam Berdarah Dengue. In: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, editors. Buku Ajar llmu Penyakit Dalam, jilid 3. 4th. Jakarta: Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2006. p. 1731-5.

2 Peters CJ. Infections Caused By Anrhropod and Rodent Borne Viruses. In: Kasper DL, Fauci AS, Longo DL, Braunwald E, Hauser SL, Jameson JL, editors. Harrison’s Principles of Internal Medicine Volume I. 16th. New York: McGraw Hill; 2005. p. 1161-75.

3 Masjoer A, Triyanti K, Savitri R, dkk. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1. Jakarta: Media Aesculapius; 2001. p.428-33.

4 Barrett ADT, Weaver SC. Arboviruses: alphaviruses, flaviviruses and bunyaviruses. In: Greenwood D, Slack RCB, Peuthere JF, editors. Medical Microbiology. 6th. Edinburgh: Churchill Livingstone; 2002. P. 484-500.

5 Hamid Firdaus, Sjahril Rizalinda, Massi Muh. Nasrum. Imunoglobulin G dan M pada Penderita suspek demam berdarah dengue. [online]. J Med Nus Vol. 27 No.3 Juli-September 2006– Vol 26, 2002 [cited 2008 Nov 3]: p. 164-6: Available from: URL: http://www.pediatrik.com/pkb/061022015303-6l9i130.pdf

6 Kristina, Isminah, Wulandari L. Demam Berdarah Dengue. [online]. 2004 [cited 2008 Nov 3]: p. 1-4: Available from: URL: http://www.litbang.depkes.go.id/maskes/052004/demamberdarah1.htm

7 Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. Panduan Pelayanan Medik. Jakarta: Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2006. p. 137-8.

8 Mubin H. Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam Diagnosis dan Terapi. 2nd. Jakarta: EGC; 2008. p. 7-10.
9 Massi MN, Sabran AA. Teknik Identifikasi Serotipe Virus Dengue (DEN 1-4) dengan Uji Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). [online]. J Med Nus Vol 27 No 1 Januari-Maret 2006 [cited 2008 Nov 4]: p. 68-71: Available from: URL: http://med.unhas.ac.id/DataJurnal/tahun2006vol2007/NO1TAHUN2006

10 Kusumawati RL. Teori Sequential Infection dari Halstead. [online]. 2005 [cited 2008 Nov 4]: p.1-6: Available from: URL: http://library.usu.ac.id/download/fk/mikrobiologi

11 CDC. Dengue Fever. [online]. 2008 April 2004 [cited 2008 Nov 3]: p.1-5: Available from: URL: http://www.cdc.gov/ncidod/dvbid/dengue/index.htm

12 Chanthavanich p, luxemburger c, yakul cs, lapphra k, pengsaa k, yoksan s, sabchareon a, lang j. Short Report: Immune Response And Occurrence Of Dengue Infection In Thai Children Three To Eight Years After Vaccination With Live Attenuated Tetravalent Dengue Vaccine. [online]. Am J Trop Med Hyg 75(1) 2006. p. 26-8

Entry filed under: infeksi. Tags: .

TONSILOFARINGITIS BISING

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Januari 2009
S S R K J S M
« Des    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: