BISING

Januari 11, 2009 at 11:45 am Tinggalkan komentar

LATAR BELAKANG MASALAH
Undang-Undang No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal 23 menyatakan bahwa upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) harus diselenggarakan di semua tempat kerja, khususnya tempat kerja yang mempunyai resiko bahaya kesehatan, mudah terjangkit penyakit, atau mempunyai karyawan paling sedikit 10 orang. Apabila memperhatikan isi dari pasal di atas maka jelaslah bahwa rumah sakit (RS) termasuk ke dalam kriteria tempat kerja dengan berbagai ancaman bahaya yang dapat menimbulkan dampak kesehatan baik terhadap para pelaku langsung yang bekerja di RS tersebut maupun pasien dan pengunjungnya. Dengan demikian, sudah sepatutnya pihak pengelola RS menerapkan upaya-upaya K3 di RS.1
Tempat kerja menurut UU No. 1 tahun 1970 adalah tiap ruangan atau lapangan tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap, di mana tenaga kerja bekerja untuk keperluan suatu usaha di mana terdapat sumber-sumber bahaya. Kegiatan di RS selalu terkait dengan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan sehingga terjadi interaksi manusia dan teknologi yang dapat menimbulkan  dampak bagi kesehatan pegawai. Rumah sakit adalah tempat di mana pegawai kesehatan mengobati/merawat orang yang sakit, demikian pula sebaliknya orang sakit diobati/dirawat, dan pengunjung untuk menengok orang sakit. Oleh karena itu, rumah sakit harus menjadi tempat kerja yang aman, bebas dari kecelakaan dan Penyakit Akibat Hubungan Kerja (PAHK).2,3,4
Selain penyakit-penyakit infeksi, potensi bahaya di rumah sakit juga mencakup potensi bahaya-bahaya lain yang dapat mempengaruhi situasi dan kondisi di rumah sakit, yaitu kecelakaan (peledakan, kebakaran, dan kecelakaan yang berhubungan dengan instalasi listrik), gangguan pendengaran akibat kebisingan dan sumber-sumber cedera lainnya seperti radiasi, bahan-bahan kimia yang berbahaya, gas-gas anestesi, gangguan psikososial, ergonomi, serta unsur-unsur biologis seperti virus, bakteri, parasit, dan jamur. Semua potensi bahaya tersebut jelas mengancam jiwa serta dapat mengganggu kesehatan dan kehidupan para karyawan, pasien, maupun pengunjung yang ada di lingkungan rumah sakit. Mengenai hal di atas, terdapat peraturan pemerintah yang tercantum di dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. 51 tahun 1999 tentang nilai ambang batas faktor fisika di lingkungan tempat kerja, serta peraturan Menteri Perburuhan No. 7 tahun 1964 tentang syarat kesehatan, kebersihan serta penerangan di tempat kerja.1
Salah satu faktor yang dapat mengganggu kesehatan pekerja adalah kebisingan di tempat kerja. Banyak hal di sekitar kita yang dapat menghasilkan kebisingan yang tanpa kita sadari dapat mengganggu pendengaran. Jika berlangsung terus-menerus maka dapat mengakibatkan gangguan pendengaran yang bersifat permanen. 1,3
Dari berbagai potensi bahaya tersebut maka dianggap perlu upaya untuk mengendalikan, meminimalisasi dan bila mungkin meniadakannya. Oleh karena itu, program K3 rumah sakit perlu dikelola dengan baik. Untuk itu, diperlukan sebuah manajemen K3 di rumah sakit baik bagi pengelola maupun karyawan rumah sakit agar penyelenggaraannya lebih efektif, efisien dan terpadu.3

II.TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan Umum Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di Rumah Sakit
Tinjauan Umum tentang Kesehatan Kerja
Kesehatan Kerja adalah upaya perusahaan untuk mempersiapkan, memelihara  serta   tindakan lainnya dalam rangka pengadaan serta penggunaan tenaga kerja dengan kesehatan (fisik, mental, dan sosial) yang maksimal sehingga dapat berproduksi secara maksimal pula.4
Tujuan akhir dari kesehatan kerja adalah menciptakan tenaga kerja yang sehat dan produktif. Hal ini dapat tercapai apabila didukung oleh lingkungan kerja yang memenuhi syarat-syarat kesehatan. Lingkungan kerja yang mendukung terciptanya tenaga kerja yang sehat dan produktif antara lain: suhu ruangan yang nyaman, penerangan atau pencahayaan yang cukup, bebas dari debu, sikap badan yang baik, alat-alat kerja yang sesuai dengan ukuran tubuh atau anggotanya (ergonomi), dan sebagainya.

Tinjauan Umum tentang Keselamatan dan Kecelakaan Kerja
Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan. Kecelakaan adalah kejadian yang tak terduga dan tak diharapkan yang dapat menyebabkan kerugian material ataupun penderitaan dari yang paling ringan sampai yang paling berat. Kecelakaan akibat kerja adalah kecelakaan yang ada hubungannya dengan kerja, di mana kecelakaan terjadi karena pekerjaan atau pada waktu melakukan pekerjaan.1,4
Upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di Rumah Sakit
Upaya Kesehatan Kerja adalah upaya penyerasian antara kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat sekelilingnya, agar diperoleh produktivitas kerja yang optimal.1
Upaya K3 di Rumah Sakit menyangkut tenaga kerja, cara/metode kerja, alat kerja, proses kerja dan lingkungan kerja. Upaya ini meliputi peningkatan, pencegahan, pengobatan dan pemulihan. Kinerja setiap petugas kesehatan merupakan resultan dari ketiga komponen K3 di atas yaitu kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja. 2
Kapasitas kerja adalah kemampuan seseorang pekerja untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan baik pada suatu tempat kerja dalam waktu tertentu.
Beban Kerja adalah suatu kondisi yang membebani pekerja baik secara fisik maupun non-fisik dalam menyelesaikan pekerjaannya. Kondisi tersebut dapat diperberat oleh kondisi lingkungan yang mendukung secara fisik atau non-fisik.
Lingkungan Kerja adalah lingkungan tempat tenaga kerja melakukan kegiatan yang ada hubungannya dengan kegiatan kerja. Lingkungan kerja meliputi faktor fisik, kimia, biologi, ergonomi dan psikososial yang mempengaruhi pekerja dalam melaksanakan pekerjaannya.2,4
Tinjauan Umum tentang Kebisingan dan Gangguan Pendengaran Akibat Kebisingan
Secara umum bising adalah bunyi yang tidak diinginkan. Secara audiologik, bising adalah campuran bunyi nada murni dengan frekuensi. Nada dari kebisingan ditentukan oleh frekuensi-frekuensi yang ada. Batas-batas frekuensi pendengaran adalah terendah 16 Hz dan tertinggi 20.000 Hz. Bising yang intensitasnya 85 dB atau lebih dapat mengakibatkan kerusakan pada reseptor pendengaran Corti di telinga dalam. Yang sering mengalami kerusakan adalah organon Corti untuk reseptor bunyi berfrekuensi 3.000 sampai 6.000 Hz dan yang terberat pada frekuensi bunyi 4.000 Hz.6,7
Bila intensitas suatu bunyi makin diperkeras maka pada suatu tingkat tertentu akan mengakibatkan nyeri dalam telinga yang tidak tertahankan. Ini merupakan batas intensitas pendengaran kita. Jadi, batas atas intensitas pendengaran setara dengan ambang nyeri. Untuk berbagai frekuensi, batas atas pendengaran manusia rata-rata 130 dB.7
Bentuk- bentuk gangguan pendengaran akibat bising
Efek bunyi terhadap pendengaran dibagi atas 3 kategori, yaitu:
Trauma akustik
Trauma akustik merupakan kerusakan organik telinga yang bersifat akut akibat bunyi atau ledakan yang sangat keras. Kelainan ini terbatas pada efek akibat paparan tunggal atau paparan berulang yang relatif jarang akibat bunyi yang sangat keras. Intensitas suara yang sangat tinggi dapat merusak struktur yang terdapat dalam telinga yang mengakibatkan gangguan fungsi. Contoh: ledakan yang sangat keras dapat menyebabkan pecahnya gendang telinga, kerusakan tulang-tulang pendengaran atau koklea.
Ketulian sementara
Ketulian sementara akibat bising (noise induced temporary threshold shift/NITTS) disebabkan oleh peningkatan ambang pendengaran akibat paparan bising yang menyebabkan gangguan sensitivitas pendengaran yang bersifat reversibel. Waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan bervariasi tergantung pada intensitas bising dan lamanya paparan.
Ketulian menetap
Ketulian yang menetap akibat bising (noise induced permanent threshold shift/NIPTS) disebabkan oleh efek kumulatif paparan bising yang berulang selama beberapa tahun (periode yang lama) yang bersifat irreversibel dan tidak ada kemungkinan pulih kembali. Apabila intensitas bising yang tinggi dan ditambah dengan waktu paparan yang melebihi batas yang diperbolehkan, maka waktu pemulihan menjadi lebih lama. Jika keadaan ini berlangsung terus-menerus maka pemulihan akan terhambat dan mengakibatkan ketulian permanen.
Patofisiologi timbulnya gangguan pendengaran akibat bising
Paparan bising yang berulang selama periode waktu yang panjang dapat merusak struktur telinga dalam (koklea). Struktur tersebut sangat peka terhadap pengaruh bising yang merusak sel-sel reseptor (sel-sel rambut). Tergantung dari derajat beratnya, paparan bising dapat mengakibatkan kerusakan yang terbatas pada sel rambut atau kerusakan total pada organon Corti.
Mekanisme primer dari ketulian akibat bising adalah perubahan fisiologi dan kimia yang menyebabkan stres metabolik yang menyebabkan disfungsi sel rambut dengan akibat ketulian sementara atau destruksi sel rambut yang mengakibatkan ketulian permanen.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap gangguan pendengaran akibat bising
Intensitas bising
Intensitas bising sangat berperan terhadap timbulnya gangguan pendengaran. Makin tinggi intensitas bising makin tinggi pula resiko timbulnya gangguan pendengaran. Intensitas bising maksimal yang dapat ditoleransi oleh telinga adalah di bawah 85 dB, jika lebih dari 85 dB maka efek akan timbul tergantung dari lamanya paparan. Oleh karena itu, pemerintah menetapkan nilai ambang bising maksimum 85 dB dengan jam kerja 8 jam sehari atau 40 jam seminggu.
Durasi dan lama paparan
Pada intensitas bising 85 dB, lamanya paparan akan berperan terhadap timbulnya gangguan pendengaran. Makin lama waktu paparan maka resiko untuk mengalami ketulian akan semakin meningkat. Untuk mencegah timbulnya gangguan pendengaran pada pekerja yang bekerja pada lingkungan dengan intensitas bising di atas 85 dB, durasi paparan per hari dibatasi sesuai dengan intensitas bising. Durasi paparan yang diperbolehkan menurut OSHA (Occupational Safety and Health Administration) dapat dilihat pada tabel berikut:

Durasi Paparan Per hari Menurut Intensitas Bising

Intensitas Bising (dB)    Lama Kerja per hari (jam)
90    8
92    6
95    4
97    3
100    2
102    1,5
105    1
110    0,5
115    0,25

Faktor biologik pekerja
Usia
Organ pendengaran akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan pertambahan usia seseorang. Seiring dengan bertambahnya usia maka degenerasi organ dapat terjadi dan fungsinya juga akan mengalami penurunan. Degenerasi ini akan mempermudah timbulnya gangguan pendengaran jika terpapar bising.
Status kesehatan
Adanya penyakit sistemik misalnya Diabetes Mellitus, penyakit THT seperti otosklerosis, otitis media supuratif kronik dapat menyebabkan gangguan dan kerusakan pada organ pendengaran. Keadaan ini akan mempermudah timbulnya gangguan pendengaran jika terpapar bising.
Penggunaan obat-obatan ototoksik
Beberapa jenis obat bersifat racun terhadap telinga dan dapat meyebabkan kerusakan pada koklea, misalnya kanamisin, streptomisin, dan kina. Penggunaan obat-obat tersebut dalam jangka waktu yang cukup lama akan menyebabkan degenerasi sel-sel rambut koklea.
Penggunaan alat pelindung telinga
Penggunaan alat pelindung telinga dapat mengurangi kebisingan sampai 40 dB, tergantung dari jenis dan bahan yang digunakan. Tutup telinga dapat menurunkan kebisingan antara 25-40 dB, sumbat telinga dari karet mampu mengurangi kebisingan 18-25 dB, sedangkan sumbat telinga dari cotton wool memberikan proteksi hingga 8 dB. Untuk memperoleh hasil terbaik, dapat digunakan kombinasi antara tutup telinga dan sumbat telinga.
Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Kebisingan
Kebisingan tidak dapat dipisahkan dari lingkungan kerja sehari-hari sehingga perlu dipikirkan suatu upaya untuk menanggulangi bahaya kebisingan dan mencegah timbulnya efek bising yang tidak diinginkan terhadap pekerja. Untuk itu, diperlukan upaya terpadu antara pemerintah, pihak pengusaha, dan pekerja. Beberapa langkah yang dapat ditempuh antara lain:6,7
Pembuatan dan pelaksanaan undang-undang dan peraturan yang berkaitan dengan upaya pengendalian kebisingan (noise control) di tempat kerja serta pengawasan pelaksanaannya.
Pengukuran secara berkala intensitas bising di tempat kerja dan pemetaan lokasi berdasarkan tingkat kebisingan (noise map).
Membatasi dan mengurangi kebisingan dari sumbernya serta mencegah paparan langsung bising terhadap pekerja dengan cara perencanaan dan pemilihan mesin, pemeliharaan mesin-mesin dan peralatan lainnya secara teratur, perencanaan konstruksi bangunan yang meredam bising, penempatan mesin, pembuatan panel instrument room, dan sebagainya.
Untuk pekerja:
Pendidikan dan penerangan tentang bahaya bising.
Penggunaan alat pelindung telinga.
Pemeriksaan kesehatan dan fungsi pendengaran sebelum dan sesudah bekerja di tempat bising serta pemeriksaan secara berkala.
Pembatasan lama paparan bising terhadap pekerja berdasarkan lama kerja maksimal yang diperbolehkan sesuai dengan intensitas bising.
Pemeriksaan Kesehatan sebagai Salah Satu Program Kesehatan dan      Keselamatan   Kerja terhadap Paparan Faktor Lingkungan Kerja (Hazard) Biologik di Rumah Sakit
Pemeriksaan Kesehatan Awal  (Sebelum Kerja)
Alasan untuk melakukan pemeriksaan ini adalah sebagai berikut:
Menilai kebugaran untuk melakukan pekerjaan yang sudah ditetapkan, misalnya mengangkat barang yang berat atau mengemudikan kendaraan umum (wajib berdasarkan hukum).
Menilai kemampuan untuk mengerjakan jenis pekerjaan tertentu.
Mengenal penyakit dalam keadaan dini yang masih dapat diobati agar pelamar pekerjaan dengan kondisi kesehatannya pada saat sekarang masih dapat mengerjakan pekerjaan tertentu atau diberikan pekerjaan yang disesuaikan dengan kondisi kesehatannya agar dapat dicapai tujuan kerja.
Data dasar informasi kemampuan pekerja.
Sebagai kriteria mendapatkan dana pensiun/asuransi/superannuitas.
Atas permintaan manajemen.
Peninjauan kecacatan agar calon pekerja dapat ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai.
Banyak pemeriksaan kesehatan awal yang dapat dilakukan oleh perawat yang kompeten. Satu kuisioner kesehatan dapat diisi sendiri, yang dilanjutkan dengan tinjauan oleh perawat dan beberapa pemeriksaan tambahan seperti tekanan darah, pemeriksaan urin, visus, dan lain-lain. Jika pada tahap peninjauan, perawat berpendapat diperlukan pemeriksaan lanjutan, atau jenis pekerjaannya memerlukan pemeriksaan itu maka pemeriksaan kesehatan oleh dokter dilakukan dengan atau tanpa pemeriksaan tambahan.
Dalam praktik sehari-hari, dokter memeriksa tidak sampai 10% dari pelamar pekerjaan yang baru. Mereka yang diperiksa itu sudah dapat ditetapkan secara apriori bahwa perlu diperiksa oleh dokter. Mereka ini adalah:
Pekerja yang menyangkut keselamatan umum, seperti pengemudi, pilot pesawat terbang, juru masak, dan lain-lain.
Pekerja yang memerlukan ketahanan terhadap tuntutan pekerjaan berat yang tidak spesifik dan menggunakan kekuatan fisik.
Pekerja yang memerlukan ketahanan terhadap tuntutan pekerjaan berat yang spesifik. Tuntutan pekerjaan spesifik dan evaluasi bahaya yang diakibatkannya adalah sebagai berikut:
o    Rontgen foto thorax è debu
o    Audiometri è kebisingan
o    Hematologi è radiasi pengion
o    Biokimia serum è pelarut organik
o    Pekerja laboratorium à evaluasi status imunologik (bahaya infeksi)
o    Uji atopi è allergen

Pemeriksaan Kesehatan Berkala
Pemeriksaan ini dapat bermanfaat sebagai penyaringan (screening) dan penemuan kasus (case finding). Screening merupakan upaya yang menggunakan prosedur, dan populasi yang tidak dipilih akan dikelompokkan menjadi dua grup yang terdiri dari satu grup yang mempunyai peluang besar untuk menderita penyakit yang mematikan atau menderita cacat dan grup lainnya yaitu yang mempunyai peluang sedikit. Case finding merupakan upaya untuk menemukan penyakit dengan berbagai macam pemeriksaan atau prosedur oleh seorang petugas kesehatan yang sudah sejak lama mempunyai hubungan yang berlanjut dengan orang yang diperiksa.
Berdasarkan tinjauan terakhir mengenai pemeriksaan kesehatan berkala, disepakati beberapa kondisi orang dewasa yang memerlukan surveilens sistematik, baik untuk pencegahan maupun pengobatan, yaitu kondisi akibat paparan agen biologik antara lain beberapa penyakit menular, seperti rubella, cacar, kolera, tuberkulosis, hepatitis, dan lain-lain.
Pemeriksaan Kesehatan Khusus
Pemeriksaan ini dilakukan dengan melakukan pemeriksaan khusus pada kelompok pekerja tertentu sesuai dengan bahaya-bahaya yang spesifik pada bidang pekerjaannya. Misalnya pada petugas radiologi yang rentan terhadap bahaya radiasi, petugas laboratorium yang rentan bahaya kontaminasi agen biologik dari pasien, pemeriksaan kesehatan pada karyawan wanita yang sedang hamil, dan sebagainya.

Entry filed under: kedokteran kerja. Tags: .

DEMAM BERDARAH DENGUE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Januari 2009
S S R K J S M
« Des    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: